ICE BREAKER 2

“Ice breaker hadir untuk menjadikan suasana ceria dan gembira tapi tetap kondusif.”

Yup, seorang Ice Breaker diharapkan bisa memberikan ‘angin segar’ bagi peserta pelatihan, seminar, atau workshop.

Ia diperlukan untuk menyatukan pikiran dan hati para peserta yang tentunya punya alasan dan motivasi sendiri untuk mengikuti sebuah pelatihan, seminar, atau workshop; ada yang ingin menguasai bidang tertentu, mempertajam keterampilan, ada yang sekadar berkumpul bersama teman daripada bengong di kantor, ada pula yang ikut karena dipaksa atasan. Semua alasan tersebut sedikit banyak pasti akan berdampak terhadap si pembicara ketika mereka merespon setiap aktivitas dalam pelatihan.

Peserta yang memang bersemangat untuk mendapatkan ilmu tambahan akan terus antusias sampai acara berakhir. Di sisi lain, ada peserta yang melamun sambil menulis atau menggambar di kertas kerja, lembar kerja pelatihan, ada yang bercerita dengan peserta lain, serta ada juga yang diam dan tegang tetapi mengantuk. Seribu macam gaya dan ekspresi tersebut perlu dijadikan satu macam gaya saja.

Maka target utama si Ice Breaker adalah membuat dan mengarahkan pandangan dan pikiran para peserta ke satu sumber yaitu pembicara.

Di samping itu, sang Ice Breaker pun diharapkan mampu menjadi penyeimbang otak kanan dan kiri para peserta yang hadir. Tak heran, banyak ice breaker menggunakan teknik brain gym (senam otak) yang perwujudannya bisa beragam.

The ice breaker hadir saat jeda ketika para peserta merasakan kejenuhan. Menurut penelitian, daya konsentrasi manusia itu mengikuti umurnya; ketika usia 13 tahun, maka daya konsentrasinya maksimal 13 menit, di usia 20 tahun, daya konsentrasinya mencapai 20 menit, dan ternyata itulah waktu yang paling lama manusia bisa memaksimalkan konsentrasinya, meski usia si manusia itu sudah mencapai 45 tahun.

Oleh sebab itu, buatlah si ice breaker ini masuk ke ruang pelatihan/seminar setiap 20 menit sekali untuk ‘membunuh’ rasa jenuh dan bosan, sekaligus me-reboot daya konsentrasi para peserta. Kenali tanda-tandanya : banyak wajah lesu, banyak yang menguap (bukan karena kantuk), banyak yang meregangkan otot-otot yang pegal di tempat duduk, mulai banyak yang ngobrol sendiri atau bahkan asyik sendiri dengan telepon genggamnya.

The Ice Breaker  juga harus mampu membuat peserta merasa nyaman berada di dalam ruangan, membuat peserta memiliki rasa menghargai, dan tolong-menolong. Teknik yang paling populer digunakan oleh para ice breaker untuk hal ini adalah memijat pundak teman secara bergantian. Ingat, ya, laki-laki dengan laki-laki, dan perempuan dengan perempuan supaya tetap kondusif dan tak ada gossip atau omongan di belakang. Hehehe…

Satu lagi yang bisa bikin sang ice breaker berhasil membuat seseorang mampu menyerap informasi yang disampaikan oleh sang pembicara, yaitu dengan menerapkan teknik belajar secara VISUAL, AUDITORY, & KINESTETIK. Melibatkan ketiga jenis metode tersebut dalam ice breaking membuat para peserta akan lebih mampu menyerap informasi yang disampaikan. Perwujudannya bisa dengan beragam aktivitas, ya.

Nah, ternyata nggak gampang juga kan, jadi seorang ice breaker … makanya pepatah bilang, “Everybody can speak, but not everybody can be a speaker or an ice breaker!”

RESPECT TO ALL THE ICE BREAKERS…. 🙂

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*