Seminar Parenting  oleh dr. Aisah Dahlan di Universitas Pembangunan Jaya, Tangerang Selatan: “Menjadi Orangtua Bijak di Era Milenial”

Kata orang, belajar menjadi orangtua memang tak ada sekolahnya. Lalu, bagaimana bisa mendapatkan pengetahuan, berproses dan belajar setiap hari untuk menjadi orangtua yang baik, bijak dan dicintai oleh keluarga serta lingkungan di sekitarnya?

Salah satu caranya adalah dengan mengikuti berbagai seminar, workshop atau training-training seputar parenting yang rata-rata membahas berbagai masalah yang sering dihadapi oleh orangtua sehari-hari.

Saat ini orangtua tak hanya dihadapkan pada masalah domestik saja, tapi juga masalah global seputar penyesuaian perilaku sosial anak-anak generasi lannggas atau lebih bekennya sekarang disebut generasi milenial yang terkenal sangat self centre. Nah, apa dan bagaimana solusinya?

Sekolah dan Yayasan Pembangunan Jaya menyelenggarakan sebuah seminar parenting bertema “Menjadi Orangtua Bijak di Era Milenal,” Jumat, 12 Oktober 2018 di Ruang Aula Universitas Pembangunan Jaya, Tangerang Selatan. Acara ini diisi oleh narasumber tunggal, yaitu dr Aisah Dahlan, Ketua Asosiasi Rehabilitasi Sosial Narkoba Indonesia (AIRI)

Dalam seminar parenting yang berlangsung selama hampir dua jam ini, dr Aisah memaparkan kepada para peserta yang terdiri dari para orangtua dan tenaga pendidik dari Sekolah Pembangunan Jaya apa dan bagaimana Generasi Langgas atau generasi Milenial, serta kaitannya dengan sukses menjadi orangtua bijak di era milenial.

Sebagai informasi saja, kata Langgas menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti ‘tidak terikat kepada sesuatu atau kepada seseorang’; bebas.

“Bapak, Ibu di sini saya perlu memaparkan sedikit apa dan siapa yang dimaksud dengan Generasi Langgas. Mereka itu  adalah anak-anak yang lahir setelah tahun 1980 hingga tahun 2000-an.

Mereka adalah anak-anak yang memiliki ciri-ciri BEBAS, TAK TERIKAT oleh norma, nilai atau siapa pun juga. Mereka adalah generasi anak-anak jujur, yang bisa berkata dan berperilaku apa adanya. Jika mereka marah atau tak suka dengan perlakukan orangtuanya, mereka akan speak up, langsung ngomong, dan menyampaikan aspirasi serta pendapatnya. Kehidupan mereka pun tak lepas dari pengaruh gawai, device, atau peralatan berbau digital.

Oleh karenanya, mereka sangat update dengan berbagai perkembangan dunia teknologi digital dan media sosial saat ini,” papar dr Aisah Dahlan, yang saat ini juga menjabat sebagai Pembina Sosial Entrepreneur After Care, Yayasan Sahabat Rekan Sebaya.

Melihat dan menghadapi perilaku sosial anak-anak generasi langgas yang juga dialaminya sendiri di rumah dengan kelima anaknya yang notabene lahir sebagai generasi milenial Indonesia, Dokter Aisah Dahlan perlu memaparkan apa dan bagaimana menghadapi  anak-anak tersebut dengan bijak.

dok: hanizkentangbunder

“Kita sebagai orangtua yang lahir di zaman sebelum mereka, perlu menyesuaikan diri dengan perilaku serta keseharian anak-anak ini dengan berpikir positif sebagai langkah awalnya. Tak mudah memang, tapi kita harus berusaha dan terus belajar menyesuaikan diri jika ingin menjadi orangtua yang dianggap cool, update, dan mengasyikkan oleh mereka,” jelas dr. Aisah Dahlan.

Berbagai tips dan cara praktis berdasarkan pengalaman pribadinya, dr Aisah Dahlan mengemukakan berbagai contoh dan berbagi pengalaman menghadapi anak-anaknya yang notabene terlahir sebagai anak-anak digital native dalam era generasi lanngas kepada para peserta seminar.

Nah, akankah kita berhasil atau tidak menjadi orangtua yang bijak di era milenial ini, bergantung pada sikap dan pola pikir kita sebagai orangtua.

Bersediakah kita menyesuaikan diri atau malah membentengi dan bersikap negatif terhadap anak-anak kita sendiri? (Liputan/Foto: hanizkentangbunder/pipien)

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*