Mengapa Saat Marah Kita Berteriak?

Apakah Anda pernah mengamati  ketika seorang ibu memarahi anaknya yang sedang nakal? Apa yang menjadi fokus perhatian Anda? Ekspresi wajah si ibu? Suara kerasnya atau isak tangis si anak yang dimarahi?

Orang yang marah dengan emosi  meluap memang unik-unik ekspresinya. Ada yang memperlihatkan wajah seram, ada juga yang mengeluarkan suara yang sangat keras, bahkan sampai berteriak.

Saking kerasnya suara yang dihasilkan orang yang marah, terkadang kata-kata yang terucap dari mulutnya seringkali tak terdengar jelas. Benar, tidak?

Nah, biasanya orang di sekitar akan segera menengok atau malah mencari sumbernya ketika mendengar seseorang bicara dengan volume suara yang sangat keras. Setelah itu, ia akan segera melihat ekspresi yang ditampilkan oleh orang yang mengeluarkan suara keras tersebut.

Apakah Anda pernah bertanya dalam hati, mengapa saat kita sedang marah dengan emosi yang meluap, suara yang dikeluarkan sangat keras, sampai kita berteriak?  Berikut ini ada sebuah ilustrasi cerita yang mungkin dapat menjadi inspirasi Anda hari ini.

Suatu hari, sang guru bertanya kepada murid-muridnya. “Mengapa ketika seseorang sedang dalam keadaan  marah, ia akan berbicara dengan suara kuat atau berteriak?”

Seorang murid setelah berpikir cukup lama mengangkat tangan dan menjawab, “Karena saat seperti itu ia telah kehilangan kesabaran, karena itu ia lalu berteriak.” Kemudian, sang guru balik bertanya, “Tapi lawan bicaranya justru berada di sampingnya. Mengapa harus berteriak? Apa ia tak bisa berbicara pelan dan halus? Toh jarak mereka berdua sangat dekat, kan?”

Hampir semua murid memberikan sejumlah alasan yang dikira benar menurut pertimbangan mereka. Namun tak satu pun jawaban yang memuaskan.

Lalu, sang guru menjelaskan bahwa ketika dua orang sedang berada dalam situasi kemarahan, jarak antara ke dua hati mereka menjadi amat jauh walau secara fisik mereka begitu dekat. Karena itu, untuk mencapai jarak yang demikian, mereka harus berteriak.

Namun anehnya, semakin keras mereka berteriak, semakin pula mereka menjadi marah dan dengan sendirinya jarak hati yang ada di antara ke duanya pun menjadi lebih jauh lagi. Karena itu mereka terpaksa berteriak lebih keras lagi.

(Ervina/sumber ilustrasi: NN/image: dailymail,bbc)

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*